Perbedaan Epistemologi Sufi dan Ulama’

Posted by Cahaya Biru On 2008

Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengulas perbedaan epistemologi antara jalan 'Ulama dan Sufi. Sedangkan, uraian secara singkat, kita dapat menemuinya di buku Mursyidul Amin. Kami mengulas hal ini karena tema ini adalah tema yang menarik. Kami menyuguhkan model untuk menggambarkannya secara artifisial. Maksudnya, model ini hanya gambaran, dan bukan merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya. Singkatnya, uraian ini adalah ringkasan dari topik perbedaan metode shufiyah dan 'ulama di dalam Buku Ihya' Ulumuddin….

Studi Teori Ushul-Fiqih dalam Analisis Kebijakan

Posted by Cahaya Biru on 2008

Aliran Konstruktivism berpendapat bahwa eksistensi realitas adalah konstruksi mental dan relatif ada pada siapa saja yang memilikinya. Pemerintahan Negara yang memiliki warga mayoritas Muslim telah memakai “fiqih” sebagai pengetahuan relevan bagi kebijakan publik. Lebih lanjut, Muslim menyebut tekhnik pembuatan-keputusan untuk memproduksi fiqih melalui term “ushul fiqih”... ...

Sejarah Ijtihad Tertutup

Posted by Cahaya Biru on November 2008

Sekitar abad 5 H / 11 M, para Fuqaha mengeluarkan pendapat larangan ijtihad di kajian Fiqih. Setelah opini ini terbentuk dan disepakati, dia menjadi paradigma baru yang dikenal sebagai "Penutupan Pintu Ijtihad (insidad fii al-bab al-ijtihad)” atau ”Pintu Ijtihad Tertutup”. Dilain hal, paradigma itu disebut sebagai Era Fanatisme, yaitu suatu periode ketika berkembang pikiran taqlid (Fanatisme Buta). Yang paling parah, muslim awam mengkultuskan Mujtahid terdahulu. ...

Tentang Hakekat Kecerdasan

Posted by Cahaya Biru On 2009

Sebagai Ahli Genetics, Sophie selalu bicara quadrant otak A, B, C, dan D. Saya sempat bingung dengan kuadran-kuadran itu. Mendengar istilah tersebut, saya penasaran. Terus kuketik saja keyword brain quadrant di search engine om google. Lap...lap... lalu muncul.

Tentang Hakekat Kecerdasan Bagian II

Posted by Cahaya Biru On 2009

Diskusi SMS terus berlanjut... Dalam hatiku, dengan semangat aku berkata "sekarang adalah giliranku". Ya, inilah giliranku menguraikan prinsip kecerdasan. Menurutku, kecerdasan bukan berdasarkan otak-nya. Atau bahkan, seberapa tinggi IQ yang dimiliki seseorang. Namun, tingkat nafsu adalah ukuran kecerdasan seseorang.

Doktrin Klasik Administrasi Publik (Seri 01)

Kamis, Oktober 23, 2008


Administrasi publik sering dipikirkan sebagai pertanggung jawaban kebijakan dan program pemerintahan. Hal itu secara spesifik berkaitan Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Controlling, Reporting, dan Budgetting dari operasi-operasi pemerintah. Lebih dari itu, administrasi publik menjadi fitur dari negara/kerajaan apapun bentuk pemerintahannya. Praktek di level pusat, propinsi, dan lokal adalah perkembangan administrasi publik. Pengadaan latihan administratif, eksekutif, atau direktif menjadikan administrasi publik sebagai profesi yang berbeda. Profesi ini dimaksudkan melaksanakan pelayanan sipil (civil service) kepada masyarakat. Karena itu, bagi administrator publik, pelayanan sipil adalah ibarat tubuh manusia yang menjadi pusat utama. Maka, konotasi kelas elit yang berarti pemyempitan makna dari pelayan publik harus secara sadar ditinggalkan dan dihindari.

Ilmu Administrasi Publik dan kaitannya dengan Studi Analisis Kebijakan bisa dijejak sejak tahun 1930-an. Doktrin klasiknya berawal dari dikotomi administrasi dengan politik. Jika ditelusuri, gagasan itu bersumber dari Essai Woodrow Wilson yang berjudul “Introduction To Study Administration” (1887). Dalam essai tersebut, Wilson sebenarnya ingin memfokuskan kajian Ilmu Politik ketimbang memaksimasi keyakinan politis yang berkembang pada saat itu. Wilson berargumen “It’s getting harder to run a constitution than to frameone”. Keinginan Wilson adalah memfokuskan tidak hanya masalah personal tapi juga masalah organisasional dan manajemen secara umum. Pandangan ini merupakan langkah maju ke depan guna melakukan investigasi terhadap kantor administrasi di negaranya, Amerika Serikat.

Taktik atau strategi Wilson, dan ini sangat terkenal, adalah memisahkan Politik dan Administrasi. Hal ini disebabkan bahwa janji publik seharusnya berdasarkan kecakapan dan manfaat ketimbang melalui partisan. Maka, tekanan kuatnya, bahwa “politik” harus keluar posisinya dari pelayanan publik. Sebutan populer periode ini adalah Dikotomi Politik dan Administrasi. (Shafritz & Hyde, 1991:1-2; Gupta, 1:3)

Gagasan Wilson berkembang dan mendapat apresiasi dari Frank J. Goodnow yang menulis buku berjudul “Politics and Administration” (1900). Argumen dikotomi ditawarkan dan menjadi satu suara paling signifikan bagi gerakan perubahan progresif munculnya Ilmu Administrasi. Goodnow berargumen “the expression of the will of the state and the execution of that will”. Goodnow juga menambah, bahkan partai politik pun harus memiliki administrasi. Meski ide Goodnow tidak gamblang dan jelas jika dikaitkan tindakan pemerintah, tapi ide itu menjadi sumbangan berharga. (lihat Goodnow (1900) dalam Shafritz & Hyde, 1991:25-32). Lebih lanjut, sarjana awal lain, di tahun-tahun itu, adalah Willoughby. Willoughby berpendapat bahwa administrasi publik memiliki aspek universal yang bisa diaplikasikan di seluruh cabang pemerintahan. Karyanya berkaitan perubahan sistem keuangan mengawali kreasi sistem keuangan dalam pemerintahan negara. (lihat Shafritz, 1991; Islamy, 2003; Henry, 1995)

Suara Wilson, Goodnow, Willoughby, dan Taylor (lebih dikenal di Ilmu Manajemen) memberi sumbangan besar dan menjadi demam di perkembangan Ilmu Administrasi Publik. Mereka mengidentifikasi tema kritis yang menjadi bagian permanen dari kajian administrasi publik modern. Tema Utamanya, bahwa Administrasi Publik harus jadi premis dari Ilmu Manajemen dan Administrasi Publik harus memisahkan diri dari Politik tradisional. Inilah kemudian menjadi dogma pelajaran dan kurikulum disiplin terkait dan menjadi sisa hingga munculnya Perang Dunia II.

Dilain pihak, Britania Raya dan Aliran Administrasi Publik Eropa membantah dan membuat resistensi dari Aliran Administrasi Publik Amerika. Stillman II berargumen bahwa Administrasi Publik ada di Eropa sejak abad 17 M. Stillman II juga menunjuk karya Bonnin ‘Principle D’administration Publique’ yang bertujuan membangun Ilmu Administrasi Publik Positivis Perancis pada era Napoleon; dan karya Veit Ludwig von Seckendorf ‘Teutscher Furstentat’ (1656) yang menegaskan Kameralism pada era Kerajaan Prussia (sekarang Negara Jerman). Selanjutnya, masyarakat Eropa yang merasa lebih dulu menggagas Administrasi Publik memakai istilah “Administrative Science”, sebagai suatu istilah pembeda dari “Public Administration” yang dibuat Sarjana Amerika.

Bersambung ...

Ingin melanjutkan ke Seri Kedua !!! Klik link di Related Post di bawah



Daftar Referensi

Dror, Yahezkel. 1967. Policy Analyst: A New Professional Role In Government Service. dalam Shafritz, Jay M. & Hyde, Albert C. (eds). 1992. Classics Of Public Administration (3rd Ed). California: Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove. (hal 297-304)

Frederickson, George. 1970. Toward New Public Administration. dalam Shafritz, Jay M. & Hyde, Albert C. (eds). 1992. Classics Of Public Administration (3rd Ed). California: Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove. (368-381)

Gupta, Dipak K. 2001. Analyzing Public Policy: Concepts, Tools, and Techniques. Washington: CQ Press

Henry, Nicholas. 2004. Public Administration And Public Affairs. (9th ed.). New Jersey: Prentice Hall International Inc. Englewoods Cliffs

Henry, Nicholas. 1995. Administrasi Negara Dan Masalah-Masalah Publik. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Islamy, M. Irfan. 2003. Prinsip-Prinsip Kebijaksanaan Negara. Jakarta: P.T. Bumi Aksara.

Shafritz, Jay M. & Hyde, Albert C. (eds). 1992. Classics Of Public Administration (3rd Ed). California: Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove.

Wilson, Woodrow. 1887. Introduction To Study Administration. dalam Shafritz, Jay M. & Hyde, Albert C. (eds). 1992. Classics Of Public Administration (3rd Ed). California: Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove. (hal 11-24)

Ingin melanjutkan ke Seri Kedua !!! Klik link dibawah tulisan Related Post




Read On 0 comments

Alat Meningkatkan Blog Traffic

Rabu, Oktober 22, 2008
Aku berjalan-jalan kemudian menemukan web tentang cara meningkatkan Traffic. Coba kalian semua datang ke TrafficG atau Klik disini untuk singkatnya. Alat ini berguna bagi siapapun yang punya blog/web dan ingin Blog Traffic (Lalu lintas blog/web) nya naik.

Daftar dan Coba saja, mungkin blog traffic kamu bisa jadi tinggi dan menambah manfaat blog kamu. Klik Disini Daftar TrafficG



Read On

My Google Adsense Account is Disabled, hu hu hu

Selasa, Oktober 21, 2008

Aku punya adsense sejak April 2008. Senang banget, karena mungkin bisa dapat check dan nambah uang buat bayar softdrink. Saat dapat $US 1, rasanya senaaaaangggg banget....he he he. Maklumlah, waktu itu, tentang Adsense, aku masih awam banget.

Kemudian kucoba-coba klik sendiri iklan-iklan Adsense itu. Dari satu warnet, ke warnet laen. Gak tahu udah sampai berapa. Terus tiba-tiba, earning adsense jadi $US 45. Wow, wow, wow, aku jadi tambah ijooo. (ssstttt......Padahal, itu nantinya jadi boomerang yang jadi sebab account adsense ku disabled.)

Kemudian, google kirim postcard yang berisi PIN NUMBER adsense dan kuterima tanggal 13 Oktober 2008. Kemasukin aja PIN itu. Status Hold Payment (pembayaran uang ditahan) yang berwarna merah berubah jadi hijau, yang berarti tidak hold lagi.

Kemudian Betapa kagetnya, 2 hari setelah kumasukin PIN, Account Adsense-ku dihapus. Aku tersontak, HAAA, menggerutu dan senyum sinis. Kenapa? Kupikir-kupikir kenapa yaaa? Lalu aku paham. Ternyata, kebiasaanku mengklik iklan adsense di blogku sendiri itulah yang jadi sebab. Adsense mengenali ID kita berdasarkan IP Address.

Ya udah baiklah. No problem. Meski $US 45 Dollar itu lumayan, yang bisa buat beli softdrink 1.5 liter air karbonasi sebanyak 45 botol, hatiku sekarang sudah sejuk.
Barangkali aku nanti bisa dapat ganti yang lebih baik. :-)


Read On 7 comments

Nalar dan Etika dalam Ushul-Fiqih

Selasa, Oktober 21, 2008

Topik ini merupakan hal penting dalam ushul-fiqih. Bahwa dalam ushul fiqih, aktivitas memilih dan menentukan prioritas nilai bukanlah penentuan yang bersifat teknis semata. Akan tetapi, juga membutuhkan penalaran yang bersifat moral. Karena Ilmu Fiqih merupakan salah satu jenis etika terapan.

Pada kasus ini, pandangan instrumentalisme ilmu yang menganggap bahwa metode analisis merupakan instrumen yang netral tidak sepenuhnya tepat. Dampaknya, hal ini akan mengarahkan pandangan bahwa ushul-fiqih bisa dipakai untuk maksud baik dan jahat. Yang hal ini, bergantung pada tujuan yang dilayani oleh kaidah dan metode analisisnya. Sebenarnya, ushul fiqh bersifat penuh nilai (value-loaded) dan bukan bebas-nilai (value-free). Mujtahid dan analis harus menerima nilai-nilai tertentu sebagaimana adanya. Bahwa nilai bukanlah semata-mata merupakan ekspresi dari keinginan, kemauan, selera, atau pilihan individual saja. Demikian pula, kondisi standar dan ideal bukan hanya sekedar refleksi harapan individual yang bersifat mutlak.

Seperti misalnya, seringkali ditemui, ketika muslim awam mendengar ijtihad, mereka cepat-cepat mendifinisikannya sebagai kebebasan menetapkan dan mengambil keputusan rasional, yang mana sumber otoritatif agama tidak menyediakan jawaban secara jelas dan detil. Mereka berargumen bahwa ijtihad membolehkan untuk hidup sesuai dengan zaman. Akan tetapi, pada kenyataannya, definisi yang keliru ini dipakai sebagai landasan melalui argumentasi yang diterapkan secara serampangan. Dampaknya, ijtihad cenderung membenarkan segala hal. Dengan kata lain, bahwa model refleksi yang tak bertanggung-jawab tidaklah memiliki pembenaran dalam kerangka ushul-fiqih (Ramadan, 1999).

Dalam ushul, fakta dan nilai bersifat saling bergantung. Karena dalil nash yang harus dipahami sebagai faktual seringkali perlu dipaparkan secara jelas melalui seperangkat asumsi, teori, kerangka referensi, dan model. Fungsi utama kesemuanya itu adalah untuk menafsirkan nash supaya mudah dan siap-pakai. Pendeknya, ushul-fiqih tergantung pada nilai dan dalam kajiannya juga bersifat kritik-nilai.



Read On 0 comments

Ushul Fiqih bersifat Multi-disiplin Ilmu

Rabu, Oktober 15, 2008

Sejak masa abad 9 Masehi, atau Abad Pertengahan Eropa, ushul telah meninggalkan/melampaui pandangan disiplin tradisional yang hanya membahas satu fokus kajian saja. Jika disiplin tradisional hanya sekedar menjelaskan keteraturan empiris, ushul-fiqih mengkombinasikan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu. Begitu pula, tujuan ushul melebihi dari sekedar memproduksi fakta, karena mujtahid juga berusaha memproduksi informasi tentang nilai-nilai.

Namun, jika kami diharuskan mendaftar berapa disiplin ilmu yang hadir dalam ushul-fiqih, kami akan mencatat disiplin-disiplin melalui daftar dan penjelasan yang panjang sekali, yang itu sangat sukar untuk dilakukan. Karena itu, disini, kami melakukan pilihan yang sederhana.

Ada 3 (tiga) kerangka populer yang mendukung perlengkapan analitis ushul-fiqih. Ketiganya ialah:
• Studi linguistik / Kebahasaan (Semantik Bahasa Arab)
Kajian semantik Arab diadopsi sejak abad 9 M. Orang yang mengadopsi adalah Muhammad Bin Idris Asy-SyafiĆ­ dalam bukunya Ar-Risalah. Studi semantik Bahasa Arab yang diadopsi berfungsi sebagai cara mengenali makna-lafadh (misalnya: ‘amr, nahy, mutlaq, muqayyad, ‘am, khosh, muytarak, dll).
Sedangkan, dalam membuat penafsiran dan proposisi, ushul mengadopsi istilah dari Ilmu Tafsir dan Logika. (misalnya: Manthuq, Mafhum, ‘ibaroh, ‘isyaroh, ta’wil dsb). Bahasa berkaitan logika begitu pula Logika berkaitan dengan Bahasa.
• Logika
Ilmu Logika dikenalkan masyarakat “Jumhur Mutakallimin” pada abad 11 M. Jumhur mutakallimin menganggap bahwa tak-ada pertentangan antara agama dengan Logika.(lihat Roy, 2004).
• Teori Tujuan Syariah (maqashid syar’iyyah).
Teori Tujuan Syari’ah berasal dari Abu Ishaq Asy-Syatibi (w. 1388 M) dalam bukunya Al-Muwafaqat. Kemudian, teori itu memiliki tempat permanen dalam ushul-fiqih. Ide dasarnya dikemukakan Malik bin Anas (w. 795 M). Teori Tujuan Syari’ah berkaitan upaya membandingkan atau menghitung manfaat-mafsadat.

Ushul fiqih dibangun dari berbagai macam disiplin. Ushul tidak hanya memakai disiplin-disiplin ilmu Agama Islam, akan tetapi juga Ilmu filsafat. Disiplin ilmu utama (secara populer) adalah ilmu Bahasa (Arab), Ilmu Hadits, Ilmu Logika, dan Ilmu Tafsir. Sedangkan, disiplin ilmu lain (yang tidak populer) adalah Astronomi, Matematika (Geometri), Ilmu Kimia, Ilmu Kedokteran, Ilmu Fisika, dan sebagainya.
Singkatnya, ushul fiqih bersifat multidisiplin ilmu.

Dahulu ketika abad pertengahan, para akademisi hanya mengenal 2 (dua) jenis Filsafat, yaitu Filsafat Moral dan Filsafat Natural. Kajian Filsafat Natural sekarang datang kepada kita melalui Ilmu Matematika, Ilmu Fisika, Ilmu Biologi, Ilmu Kimia, dan sejenisnya. Sedangkan Filsafat Moral sekarang datang kepada kita melalui Ilmu Bahasa, Ilmu Literatur, Ilmu Sejarah, Ilmu Kemanusiaan, dan sejenisnya. Sebenarnya, ada disiplin lain yang berada diantara kedua-duanya.

Para ahli ushul mengambil dan ”memadukan” kaidah dari elemen disiplin. Kaidah tersebut bersifat secara deskriptif dan normatif. Bersifat deskriptif berarti bahwa kaidah itu bertujuan mencari hubungan sebab-akibat dari fiqih. Sedangkan bersifat normatif, tujuannya ialah menciptakan dan melakukan kritik-nilai terhadap klaim generasi fiqih masa lalu, masa kini, dan ditujukan bagi klaim masa akan datang. Teknisnya, para fuqaha berupaya menguji argumen yang saling berlawanan untuk menghasilkan keputusan yang lebih meyakinkan.


Read On 1 comments

Panduan Menikmati Blog "Cahaya Biru"

Sabtu, Oktober 11, 2008


Salam kepada pengunjung Blog "Cahaya Biru" atau "Analisis-Fiqih". Kami mengucap terima kasih yang banyak karena kunjungan anda.

Sebagaimana waktu berjalan, ada beberapa hal ingin kami sampaikan tentang blog yang sederhana ini.

Blog kami terdiri dari main post dan Sidebar. Singkat aja yaa, main post berisi poting atau artikel yang kami tulis. Terus, sidebar berisi widget yang bisa dilihat disamping.

Sidebar itu berbentuk Tabber. Tabber itu berwarna-warni, ada Merah, Hijau, dan Ungu. Terus, ada judul dengan huruf lebih besar yang dipasang di atas, Misalnya: Dalam Tabber Merah, ada judul "Artikel Seri 01", "Seri 02", dan Seri 03.

Coba anda click judul-judul itu. Anda akan melihat isi yang berbeda. Itulah yang dimaksud Tabber. Tabber berfungsi agar ruang menjadi efisien.

Saya rasa cukup infonya. Atas perhatiannya terima kasih. Selamat menikmati.

Salam

Cahaya Biru


Read On 0 comments

Free Webhosting, A gift After Fetr (Idul-Fitri) Celebration

Jumat, Oktober 10, 2008


Free Web Hosting with Website Builder

Hi all,

I think this information can be useful for you. If you plan to get your website, here is one good free web hosting provider to choose - .........

In 000webhost.com, They provide hosting absolutely free, there is no catch. You get 350 MB of disk space and 100 GB bandwidth. They also have cPanel control panel which is amazing and easy to use website builder. Moreover, there is no any kind of advertising on your pages.

You can register here, by clicking the picture below or above:

Free Web Hosting with Website Builder



Read On

mengucapkan Selamat Hari Raya 1429 H / 2008 M

Senin, Oktober 06, 2008
Selamat Idul Fitri 1429 H / 2008

Setiap manusia selalu memiliki kesalahan. Meski kita tak pernah memandang, kami ingin meminta maaf atas kesalahan yang lahir dan batin.

Semoga Allah SWT menghapus dan mengampuni semua kesalahan kita. Kemudian kita bisa menapak jalan baru, menuju perjalanan hidup yang lebih baik.

Daru Kurniawan Ahmadi


Read On
Template Copyright 2009 and Designed By Cahaya Biru