Hm... Beberapa bulan lalu, badai moneter hadir lagi. Yang memprihatinkan, ekonomi moneter menjalar. Bahasa manis investasi, kredit, dan berbagai usaha keuangan adalah seperti racun berbungkus sirup. Bukankah ini adalah ekonomi rentenir? "Dana Reksa" adalah Dana rekso yang menjadikan rakyat "rekoso" (sengsara). Si kaya disubsidi, si miskin diberi aturan dengan pajak tinggi. Sedangkan, Sumber-sumber Alam malah dijual ke perusahaan asing.

Awalnya, Badai itu datang dari sifat serakah di negara Amerika. Pemegang saham tidak ingin rugi. Karena itu, pemegang saham mencari mangsa siapapun juga, yaitu orang-orang yang tidak lolos kualifikasi. Kelompok yang tidak lolos kualifikasi diberi hak kredit rumah. Walhasil, beberapa bulan cicilan, kelompok itu tidak mampu membayar. Kemudian, Raja Pengumpul Uang Investasi menderita kerugian besar-besaran, lalu, berdampak kepada negara lain yang menerapkan ekonomi moneter ini.

Teori Ekonomi Moneter adalah Utopis. Seorang teman kami yang mengambil studi Ekonomi Pembangunan berkata "Masya Allah, teori-teori kapitalis yang diajarkan adalah khayalan belaka...!!!". Ungkapan itu adalah bentuk penyesalannya. Bukanlah kesejahteraan yang didapat, namun malah kesengsaraan yang hadir. Pengangguran lebih banyak dan pekerjaan adalah outsourcing yang tidak pernah muncul jaminan pasti.

Begitu pula, ketidakadilan begitu tampak. Negara memberi sokongan besar dari pajak rakyat kecil kemudian diberikan kepada orang-orang kaya. Alasan utamanya, agar tidak menambah krisis lebih parah. Pemerintah tidak bisa menghindari krisis ini. Fenomena ini seperti Lingkaran Setan yang mencekik. Apakah ini yang dibangga-banggakan oleh Kapitalis-kapitalis itu? Sementara itu, manajemen modal yang notabene rugi, lari tunggang langgang. Semakin banyak dan semakin besar saja urutan daftar orang-orang yang dicari pemerintahan. Setelah Edi Tansil, yang dicari karena dana 1,3 triliun; kini muncul nama-nama baru dengan jumlah yang lebih besar.

Ekonomi Moneter adalah ekonomi angka-angka, tidak ada yang riil. Agen-agen ekonomi moneter ini dibelakang sering berkata "beri masyarakat mimpi-mimpi, agar mereka lebih banyak berinvestasi". Karena itu, coba saja masukkan uangmu, maka itu akan semakin cepat habis, dan lebih rugi.

Ketika uang tabungan dan investasi diputar-putar dan diperanakkan, inilah hadirnya ekonomi rentenir.

8 comments:

  1. Benlah  

    9 Desember 2008 08.39

    Wadoh mas daru, saya kagak ngarti soal ekonomi. Yang saya tau sekarang ekonomi saya turun drastis 75-80% sejak lebaran. Ya karena krisis ekonomi gaji saya pun turun. Ya mudah2an ekonomi dunia akan segera membaik. Amin

  2. Admin  

    9 Desember 2008 18.56

    @Benlah, Iya Mr., Semoga ekonomi cepat membaik. Syukur-syukur, nantinya, bunga bisa jadi 0%. Kemudian, gaji jadi lebih banyak dan lapangan kerja semakin terbuka lebar. Intinya, Kesejahteraan lebih meningkat.:)

  3. Syamsul Alam  

    10 Desember 2008 09.32

    Hihihihi.... benar sekali mas Cahaya Biru. Orang yang paling pintar adalah yang memanfaatkan situasi yang ada. Bukannya mencacinya. Hal seperti ini tidak mungkin tidak ada. Makanya, kita harus tahu cara mengantisipasinya. Misalnya yang mengenai kredit tadi. Jika kita kredit untuk barang-barang konsumtif, tentunya kita akan rugi. Orang bunganya banyak banget...

    Tapi, jika kita jadikan hal tersebut untuk landasan usaha. Misal, dengan hutang ke bank untuk buat usaha, jual beli properti misalnya. Tentunya hal ini akan menyejahterakan kita. Sebenarnya, dari mana sih ahadirnya si kaya dan si miskin. Menurutku ya dari cara mereka menggunakan uang tadi.

    Orang yang kurang mengerti guna hutang yang sebenarnya, akan terjebak untuk menggunakan hutang untuk memenuhi nafsu mereka. Sedangkan, untuk yang tahu... mereka akan jadikan hutang untuk membuat domba beranak pinak, membuat sebutir padi menjadi ribuan. Intinya, menciptakan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja baru.

    Menjadi dan menciptakan lapangan kerja baru lebih baik daripada mencari kerja lho... pasti mas juga sudah tahu hal itu kan? Karena mas sepertinya ahli fiqih....... hehehehe......

    Salam kenal, mas!

    Jika ada waktu, tolong main-main ke tempat temanku yang juga belajar ekonomi sepeerti teman mas. Sepertinya ia sejalan dengan mas. Namun, lebih terbuka wawasannya tentang dunia, sehingga tak hanya mencaci dunia, melainkan juga memikirkan jalan keluarnya....... Semoga mas juga nantinya ikut memikirkan jalan keluarnya, okay!

  4. Admin  

    10 Desember 2008 11.47

    @Syamsul Alam, Salam kenal juga ya..., alamat teman sampeyan itu di mana?

    Btw, Saya terlihat seperti mencaci yaa... maaf, jika saya terlihat seperti itu.

    Tulisan ini saya maksudkan untuk mendeskripsikan dampak negatif dari ekonomi moneter. Yang mungkin, udah lama hadir karena kebijakan pemerintah menerapkan ekonomi moneter sejak 1970. Jika mas suka, coba Syamsul baca buku John Perkins berjudul "An Economic Hitman". Buku itu kisah nyata, tentang bagaimana seorang agen Ekonomi berusaha memasukkan Ekonomi Indonesia ke dalam "Lingkaran Setan" itu.

    Karena itu, sebenarnya, Artikel ini adalah kritik aliran monetaris. Bolehkan, saya sesekali berperan sebagai kritikus dan sesekali menggunakan paradigma teori kritik terutama untuk mengobrak-abrik keyakinan dan paham yang usang, yaitu paham yang mementingkan kesenangan diri sendiri...

    Untuk artikel konstruktivism, saya akan berusaha menulis di artikel lanjutan...yaa...

    Terima kasih udah mampir. Juga, Sering-sering mampir yaa.... :)

  5. zyrajawa  

    10 Desember 2008 14.52

    tajam menukik...nyaring menyeranta...gemuruh tapi penuh anggah-ungguh...hee...secara tidak langsung akupun ingin mengatakan, inilah ekonomi syetan, gelayutan, tak menapak, tak berpijak pada pemerataan..eh ya namanya juga kapitalis. sudah pasti penuh nafsu akumulasi dan ekspansi. Lha ujung-ujungnya ya epilepsi kayak gini..hmm kupikir masih ada waktu, buat ekonomi pribumi menggeliat, dan tentu saja perlu pijakan ideologi yang mengharamkam tipu daya sehalal apapun kemasannya.So, kalau kita masih rumongso handarbeni atas bumi pertiwi ini, kenapa pula diterapkan formulasi ekonomi ala "sana", ya jadinya kayak madam de syuga...hee..ayolah Indonesia Bangkit dong...!!!
    yap...
    suwun bung Daru...amien...amien...amien..1000x2

  6. Admin  

    11 Desember 2008 00.53

    @Zyrajawa, terima kasih atas apresiasinya. :)

  7. Indra Meissa  

    11 Desember 2008 04.05

    Ya harus itu... Salam kenal yah

  8. Cahaya Biru  

    11 Desember 2008 10.24

    @Indra Meissa, Terima Kasih udah mampir.

Posting Komentar

Template Copyright 2009 and Designed By Cahaya Biru