Tidak banyak novel yang kubaca. Namun, membaca novel dari zaman pertengahan ini, Hayy Ibn Yaqdzan (Anak Kehidupan Anak Kesadaran) karya Ibnu Thufail, membuatku lebih terbuka. Buku itu dicetak berulang-ulang, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi satu hiburan sejak era pertengahan abad 10 M hingga sekarang ini.

Jika banyak kajian tentangnya membahas hubungan akal dan wahyu, saya malah mendapat sisi perbedaan epistemologinya. Ibnu Thufail menggambarkan sisi perbedaan jalan belajar formal dan informal.

Hayy Ibnu Yaqdzan adalah seorang bayi manusia yang diasuh oleh binatang. Hayy hidup di pulau terpencil dan tidak pernah mendapat kasih sayang orang tua. Bahkan, Hayy tidak pernah berjumpa dengan manusia. Sebagai gantinya, seekor kijang mengasuhnya. Ketika mulai dewasa, Hayy sadar bahwa dia berbeda dengan "pengasuhnya itu". Cerita kemudian bermula, Ibnu Thufail lalu menggambarkan bagaimana Hayy Ibn Yaqdzan mendapatkan hakekat pengetahuannya tanpa pembimbing manapun.

Lain dari Hayy, Ada seorang teman bernama Absal. Dia mengunjungi pulau itu dan bertemu Hayy. Absal adalah seorang ahli pengetahuan yang terdidik, bersekolah, dan mampu berkomunikasi dengan bahasa yang bagus. Lebih dari itu, Absal telah mendapatkan pengetahuan tentang Manthiq, Filsafat, Ilmu Bahasa, dan Ilmu Matematika (Ilmu Hisab).

Keduanya lalu berkomunikasi. Awalnya Absal mengajari Hayy tentang ilmu Bahasa. Cerita kemudian berlanjut ke dalam diskusi indah dari 2 (dua) sisi latar belakang pengetahuan yang berbeda.

Yang terakhir, Jika anda senang membaca Novel, tentu anda tidak akan melewatkan Novel yang satu itu. Meski sudah ada dan berumur lebih dari 900 tahun lalu, cerita Hayy Ibn Yaqdzan sungguh menghibur.


4 comments:

  1. Anonim  

    7 Desember 2008 05.16

    assalamu'alaikum sobat...aku ra komentar disik yo. cuma ngenalne blog-ku: http://zyrajawa.wordpress.com/
    piye kabare koen wong pinter?
    wass.

  2. Admin  

    7 Desember 2008 15.54

    @Zyra, Wa'alaikum Salam. Kabarnya baik-baik. Btw, kelihatannya aku kenal. Ini Mas Aris, yaa.... Dulu berada di Kamar 21 PESMA Al-Hikam? bener yaa?

  3. Anonim  

    8 Desember 2008 20.18

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    alhamdulillah...yap...suwun juga Ru, wis dolen neng blog-ku.
    o yo aku yo wis menelusuri jejak-jejak pemikiranmu neng forum diskusi Al-Hikam..kro nggone fashihulisan...weh jan tenan dua pendekar A-Hikam angk.2000 ini bakal mengguncang Indonesia.
    Lisan kae yo wis neng t4ku..saiki ngambil program doktoral neng solo..wis mugo2 kita iso ketemuan ya sobat..
    Blog-mu ku add yo, biar aku bisa terus memantau blog-mu...siiip
    sukses ya Ru...wass.wr.wb

  4. Admin  

    8 Desember 2008 22.54

    @Zyrajawa, Wa'alaikum Salam Wr Wb. Mas Aris ini bisa saja. Saya jadi malu. Lha wong, saya ini cuma belajar sedikit kok...:)

    Btw, mas Lisan sudah ke S3 yaa, mantab. Saya baru tahu info ini. Soalnya, kemarin yang kutahu, Lisan masih di Yogya.

    Terus, saya ucap Terima kasih sebelumnya karena udah dibuatkan link di Blog Zyra. Begitu juga, Blog Zyra udah di add. Sudah saya buatkan link di kotak Blogroll Cahaya Biru...:)

    Yang terakhir, Amiin, semoga kita bisa ketemuan. Terus, kita bisa berbincang, berdiskusi, dan bercerita tentang banyak hal. :)

    Salam Hangat...

Posting Komentar

Template Copyright 2009 and Designed By Cahaya Biru