Sekitar abad 5 H / 11 M, para Fuqaha mengeluarkan pendapat larangan ijtihad di kajian Fiqih. Setelah opini ini terbentuk dan disepakati, dia menjadi paradigma baru yang dikenal sebagai "Penutupan Pintu Ijtihad (insidad fii al-bab al-ijtihad)” atau ”Pintu Ijtihad Tertutup”. Dilain hal, paradigma itu disebut sebagai Era Fanatisme, yaitu suatu periode ketika berkembang pikiran taqlid (Fanatisme Buta). Yang paling parah, muslim awam mengkultuskan Mujtahid terdahulu. Sebenarnya, Fuqaha mengarahkan pintu ijtihad tertutup pada bidang teologi dan ritual yang bersifat doktrin ketimbang keputusan rasional yang selalu bisa berubah. Namun, kesalahpahaman terus berlanjut dan meluas di Dunia Muslim yang berlangsung selama 7 abad. (Hallaq, 1984)

Lebih dari itu, pada saat yang sama, politik kuasa Khalifah Dunia Muslim mengalami situasi lemah. Kekhalifahan Abbasyah, dimulai dari Khalifah ke-8 hingga ke-27, yang melindungi 2 (dua) tanah suci, menjadi Boneka. Pemegang kekuasaan sebenarnya adalah Rezim Militer Buwaihi yang dikuasai para jenderal. Kemudian, berganti kuasa di bawah Amir ’Umara’ yang kebanyakan bersifat keluarga-keluarga. Sistem kekhalifahan dunia Muslim, pada abad-abad ini, bisa dibilang mengambil bentuk Rezim Militer dan Aristokrasi. Khalifah Abbasyah hanya sebagai lambang. Sedangkan, kekuasaan sebenarnya berada di tangan jenderal militer dan keluarga Seljuk. (Lihat, Hitti )

Ijtihad tertutup berawal dari kesalahpahaman masyarakat fiqih. Awalnya berkembang opini bahwa tak-ada figur yang menyamai Imam terdahulu. Pandangan opini bermula dari anggapan bahwa figur dan personifikasi mujtahid telah hilang. Banyak teori kelayakan mujtahid muncul, yang itu semua lebih bersifat teoritis dan retrospektif yang dipakai guna menjatuhkan orang-orang yang berusaha mengembangkan kajian fiqih. Pada kenyataannya, sejak ushul fiqih bersifat interdisipliner/multidisiplin, tidak ada mujtahid yang mampu mengetahui segala ilmu di bumi. Karena itu, kecenderungan kelayakan mujtahid diarahkan dan dipersempit sebagai teori kelayakan bagi seorang Agamawan yang sangat-sangat ideal.

Lebih lanjut, terjadi debat sengit di antara Fuqaha. Ibnu Aqil, seorang fuqaha mazhab Hanabilah, berdebat dengan seorang Fuqaha mazhab Hanafiyah yang tidak diketahui namanya. Ibnu Aqil (w. 513 H / 1119 M) menolak pendapat tertutupnya pintu ijtihad yang dilontarkan fuqaha Hanafiyah tersebut. Dengan kata lain, Ibnu Aqil juga menentang paradigma Era fanatisme. Akan tetapi, sayangnya, opini ijtihad tertutup semakin kuat di masyarakat fiqih abad 6 H / 12 M. (Hallaq, 1994; lihat pula Rofiq, 2005)

Secara kontekstual, ijtihad tertutup mengakibatkan fiqih menjadi stagnan (berhenti / tidak berkembang), yang ini, nantinya berpengaruh terhadap semangat keilmuan Muslim. Dampak ijtihad tertutup terhadap fiqih, Fiqih cenderung hanya memperjelas (syarah), memahami, dan meringkas (ikhtisar) buku lama.
Kajian fiqih menjadi seperti berikut ini :
1)kajian fiqih hanya dibatasi pada apa yang ada dalam buku fiqh
2)kajian fiqih meringkas masalah cabang (furu’) dalam uraian singkat
3)kajian fiqih memperbanyak pengandaian dalam masalah.

Di lain pihak, para Fuqaha sibuk mengadakan penelitian pendapat Imam madzhab. Walaupun upaya penyelidikan itu bukanlah hal negatif dan fanatisme buta, akan tetapi, muslim tidak bisa mengelak, bahwa ijtihad tertutup berpengaruh terhadap merosotnya kreasi ilmu pengetahuan dan cakrawala intelektual Peradaban Dunia Muslim.

Sementara itu, keadaan keilmuan Dunia Muslim mengalami situasi gaduh. Muslim terlibat debat filosofis yang panjang. Lagi-lagi, Fuqaha terlibat dalam hal ini. Berkembang suatu debat di mana Fuqaha menyerang filsuf muslim dan ahli tasawwuf. Serangan kepada Filsuf Muslim didasari pendapat bahwa sejak abad 4-5 H / 11-12 M para Fuqaha gelisah melihat Filsuf Muslim yang seenaknya dalam menafsirkan Qur’an dan Sunnah. Karena itu, Fuqaha menuduh ajaran filsafat dan Ilmu Logika sebagai sebab utama. Opini dibentuk dan muncul slogan yang terkenal “man tamanthoqo tazandaqa” (barangsiapa yang belajar Ilmu Manthiq (Ilmu Logika) maka dia adalah kafir zindiq)

Tetapi, tuduhan itu tak sepenuhnya benar karena Logika dan Filsafat memberi sumbangan Ilmu kepada Peradaban Dunia Muslim. Muslim menjadi penemu ilmu di bidang filsafat natural dan moral. Akan tetapi, masih saja, kegaduhan dan salah-paham terus berlanjut.

Slogan "man tamanthoqo tazandaqo" laris manis, yang kemudian menjadi boomerang bagi Peradaban Dunia Muslim itu sendiri. Kajian, penelitian, dan upaya investigasi Filsafat Moral dan Natural semakin berkurang. Wal hasil, abad 16 M, Dunia Muslim menjadi defensif sebagai ganti dari era kejayaan. Ibnu Khaldun, seorang sejarawan dan Satu ahli yang merintis Ilmu Sosiologi, menyatakan:
Demikianlah masa sekarang ini (abad 14 M pen.) telah sampai berita-berita kepada kami bahwa ilmu-ilmu filsafat telah mengalami kemajuan yang pesat di negeri Franka, di tanah Eropa, daerah-daerah bagian utara yang berdekatan dengannya. Teori-teorinya telah diperbaharui kembali, tempat-tempat mempelajarinya banyak, buku-bukunya serba mencakup dan terdapat dalam jumlah yang memadai, sedangkan orang-orang yang mempelajarinya juga sangat banyak. Hanya Tuhanlah yang tahu apa yang terjadi disana. Ia menciptakan dan memiliki apa saja yang dikehendakinya (Khaldun dikutip dari Biyanto, 2004:34).

Dilain pihak, Peradaban Eropa yang membawa warisan Yunani dari Peradaban Muslim mengalami Era Renaissance (Era Pencerahan). Pendeta-pendeta Gereja, sebagai kelompok terpelajar di Eropa, sangat menyukai Ibnu Rusyd (Averoes), bahkan, menegaskan aliran Averoism. Sebaliknya, Sistem Dunia Muslim yang dulu mengalami kejayaan, lambat laun mulai menampakkan kemerosotan. Masa puncak Dunia Muslim mulai mengalami masa turun, hingga kemudian tidur pulas. Phillip K. Hitti, seorang professor Harvard, keturunan Arab Palestina, menyebut era 12 M – 18 M adalah era di mana Keilmuan Dunia Muslim berlari di tempat. Sedangkan, Bernard Lewis menyebutnya sebagai Periode Defensif sebagai ganti dari Periode Kejayaan.

Demikian juga, ahli fiqih memprihatinkan ajaran mistik (kebatinan) dan asketis (kepertapaan) yang Phillip K. Hitti menyebutnya sebagai adopsi dari Tradisi keilmuan India. Ahli fiqih menunjuk ajaran tasawwuf. Namun, ahli fiqih masih saling tarik-menarik pendapat terhadap tasawwuf. Satu kelompok Fuqaha menganggap bahwa tasawwuf bisa menjadi penyeimbang rasio yang berlebihan. Sementara itu, kelompok Fuqaha lain menganggap bahwa tasawwuf adalah terdakwa utama kemunduran peradaban Muslim.

Pada abad-abad 12-15 M, masyarakat keilmuan muslim terbagi menjadi 2 (dua), yakni: masyarakat ilmuwan maghrib (barat) dan masyriq (timur). Masyarakat maghrib (barat: Spanyol, Maroko, Tunisia) menerima filsafat selama tidak bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah. Tapi, Ulama’ Maghrib melarang ajaran tasawwuf diajarkan secara luas kepada muslim awam di daerahnya. Raja Muslim Granada, Andalus, bahkan pernah mengadakan inspeksi di setiap rumah guna menarik setiap buku tasawwuf yang ada. Meski ada tokoh Sufi seperti Ibn Arobi dan lain-lain hadir dari Maghrib, Buku Ihya' Ulumuddin karya Ghazali menjadi bahan bakar api unggun pesta kerajaan Andalusia abad 12 M. (lihat, Syazadli, Munawir, 1993). Sedangkan, masyarakat masyriq (Timur: Mesir, Iraq, Iran, India, Yaman, dan sekitarnya) berupaya menghambat ajaran filsafat manapun, dan membolehkan tersebarnya dominasi Ilmu tasawwuf melalui eksistensi kelompok thariqah.

Karena itu, ada perbedaan budaya ilmu antara Ulama' Masyriq dan Maghrib. Ulama’ Muslim Maghrib (Barat) sangat menghargai Filsafat sebagai bagian dari tradisi Barat/Yunani, dan mereka secara dominan meninggalkan Tasawwuf. Sedangkan Ulama’ Muslim Masyriq (Timur) menghargai Tasawwuf sebagai bagian Tradisi Timur/India, dan mereka secara dominan menghambat Filsafat. (lilhat Ibnu Rusd, Al-Fasl Wa Maql; Ghazali, Tahafut).

Sekarang ini, dalam mempelajari dan mendidik kedua ilmu tersebut (Filsafat dan Tasawwuf), Fuqaha memberi kualifikasi tertentu. Fuqaha menyarankan pengajaran dengan “cara yang baik” dan “kemampuan intelektual”. Lebih dari itu, muslim awam tidak disarankan mempelajari keduanya, baik itu Filsafat atau Tasawwuf.

Peradaban berganti seperti Siklik. Satu era akan mengalami kejayaan, tapi di era yang lain akan mengalami penurunan. (lihat, Khaldun, Muqaddimah). selama 7 abad dunia muslim mengalami masa gemuk, yang dimulai dari munculnya Rasul SAW hingga jatuhnya Baghdad. Begitu pula, terhitung mulai jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M hingga munculnya Abduh, selama 7 abad Dunia Muslim mengalami masa kurus. Sekarang ini, seharusnya, Dunia Muslim masuk pada era bangkit dari tidurnya yang panjang selama 7 abad kurus itu.

Hai, para Murid-murid Ilmu Fiqih, Bangkitlah, Bangkitlah, Bangkitlah dari tidurmu,............


NB: 7 abad gemuk dan 7 abad kurus hanya sekadar thesis/teori dari kami. Anda boleh menerima atau tidak.


Daftar Pustaka

Hallaq, Wael B. 1994. Law And Legal Theory In Classical And Medieval Islam. Burlington: Ashgate

Roy, Muhammad. 2004. Ushul Fiqh Mazhab Aristoteles: Pelacakan Logika Aristoteles Dalam Qiyas Ushul Fiqh. Yogyakarta: Safiria Insania

Schacht, Josepht. 2003. Pengantar Hukum Islam. Terj. An Introduction Of Islamic Law. Yogyakarta: Islamika

Schacht, Joseph. 1984. An Introduction To Islamic Law. Oxford: Oxford University Press.

Syadzali, Munawwir. 1993. Islam Dan Tata Negara: Ajaran Sejarah Dan Pemikiran. Jakarta: UI Press

Syafi’i, Rachmat. 2002. Ilmu Ushul Fiqh. Jakarta : Pustaka Setia

Biyanto. 2004. Teori Siklus Peradaban: Perspektif Ibnu Khaldun. Surabaya: LPAM

Rusyd, Ibnu. Al-Fasl Wa Maqal

Ghazali, Abu Hamid. Al-Munqidh Min Adh-Dhalal

Lewis, Bernard. 1990. The Root Of Muslim Rage

Hitti, Phillip K. History Of Arabs

Khaldun, Ibnu. Muqaddimah


6 comments:

  1. Benlah  

    24 November 2008 13.39

    Ckckck...pinter bener to sampeyan. Saya aja dh lupa sejarah kayak gini

  2. ADMIN  

    25 November 2008 08.13

    @Benlah, waduh..., sebenarnya, kepinteran yang Mas maksud itu adalah punya Allah SWT. Allah SWT memberi pengetahuan kepada siapa saja yang dikehendaki. Begitu juga, Allah akan mengambilnya kapan pun DIA mau.

    Ada banyak ahli berkata bahwa belajar sejarah bisa menjadikan kita lebih bijaksana. Kita mempelajari masa lalu, yaitu, untuk mengetahui kesalahan dan kebaikan kita. Lalu kita tinggalkan kesalahan-kesalahan dan meneruskan kebaikan-kebaikan.
    Kemudian kita berusaha mengukir masa depan dengan lebih baik dari yang lalu. :)

  3. dunia aneh  

    2 Juli 2009 04.50

    ada istilah mujtahid mustaqil, madzhad, fatwa dll..
    ijtihad yang tertutup "dengan sendirinya" ada di paling atas (usuliyah asasiyah) tidak pada "furu'iyah fiqhiyah".

  4. Cahaya Biru  

    5 Juli 2009 21.40

    @Dunia Aneh; Thabaqat Ulama'... :) ....
    Klasifikasi tingkatan itu sangat terkenal. Itu menggambarkan bagaimana kecerdasan manusia berbeda-beda.

    Memang betul, diskusi lebih banyak berada di "Kawasan" Furu'.

  5. syampoomerit  

    16 September 2009 20.56

    7 tahun masa gemuk? 7 tahun masa kurus? kaya' tafsiran mimpi nabi yusuf yah...

    gimana kalo 7 kilo naik gemuk...=> kikiki

  6. names  

    6 Juni 2010 01.33

    setelah baca mau komentar apa malah jadi bingung...

Poskan Komentar

Template Copyright 2009 and Designed By Cahaya Biru