Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengulas perbedaan epistemologi antara jalan 'Ulama dan Sufi. Sedangkan, uraian secara singkat, kita dapat menemuinya di buku Mursyidul Amin. Kami mengulas hal ini karena tema ini adalah tema yang menarik. Kami menyuguhkan model untuk menggambarkannya secara artifisial. Maksudnya, model ini hanya gambaran, dan bukan merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya. Singkatnya, uraian ini adalah ringkasan dari topik perbedaan metode shufiyah dan 'ulama di dalam Buku Ihya' Ulumuddin.





Gambar di atas adalah model perbedaan epistemologi shufiyah dan ulama'. Al-Ghazali mengenali dua cara, yaitu: Thoriqul 'Ulama (Jalan Ulama/Scientist) dan Thoriqul Shufiyah (Jalan Shufiyah).

Yang pertama, Thoriqul 'Ulama (Jalan Ilmuwan/Scientist) adalah suatu jalan bagaimana seseorang mendapatkan hakekat pengetahuan melalui pembelajaran, berpikir, dialog, penelitian, dan sejenisnya. Al-Ghazali mengelompokkan dan menyebut ilmu-ilmu untuk mencapai hakekat pengetahuan dengan istilah "Ilmu Mu'amalah". Kemudian, cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan itu, kami menyebutnya Tartibul Barahin. Sebenarnya, Al-Ghazali tidak menyebut istilah tersebut, namun kami mendapatkannya dari Guru kami.

Tartibul Barahin merupakan cara memahami pengetahuan secara rapi dengan memakai induksi, deduksi, dan dialektik. Cara ini kita sering temui di sekolah, madrasah, universitas, dan sejenisnya. Seseorang belajar dari tingkat elementary hingga Phd. Mereka mempelajari pengetahuan dari Dalil, Postulat, Aksioma, teori, penelitian, observasi, wawancara, survay, dan sejenisnya. Pengetahuan yang reliable (handal) dan valid (sah) adalah pengetahuan yang rasional, fisik, empiris, dan bisa dibuktikan. Orang yang ahli dalam jalan ini disebut 'ulama, Cendekia, Sarjana, dan sejenisnya.

Selanjutnya, atau yang kedua, Thoriqul Shufiyah (Jalan Sufistik) adalah suatu jalan bagaimana seseorang mencapai hakekat pengetahuan melalui pembersihan nafsu dan hati. Jalan Sufistik tidak bisa ditemui di sekolah atau universitas. Begitu pula, Sufistik tidak menekankan pembelajaran teori-teori, postulat, atau aksioma seperti yang dilakukan pelajar di sekolah atau madrasah. Sebagai gantinya, Sufistik menekankan perilaku yang baik di kehidupan. Manusia yang telah berhasil menjalani Thoriqul Shufiyah disebut Sufi. Kita bisa menemui Bimbingan Jalan Sufistik melalui kelompok Thoriqoh dan sejenisnya. Al-Ghazali menyebut ilmu-ilmu dalam Jalan Sufistik melalui sebutan "Ilmu Mukasyafah" dan "Ilmu Tasawwuf". Kemudian, cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan itu, beliau menyebutnya dengan istilah "Tazkiyat An-nafs".

Menurut jalan sufistik, ukuran pengetahuan yang reliable dan valid adalah pengetahuan yang berasal dari hati yang bersih. Karena itu, pengetahuan lebih berasal dari intuisi dan perasaan yang mencerminkan subyektivitas sufi daripada pengetahuan rasional dan empiris. Intuisi hadir secara tiba-tiba ke dalam hati, kemudian, memecahkan masalah-masalah. Seperti seseorang yang tiba-tiba mendapatkan Mercedez Tiger untuk mengantarnya ke Istana Negara daripada harus memilih Bus Kota.

Sedangkan, Tazkiyat An-nafs merupakan cara bagaimana seseorang membersihkan jiwa dan hati. Beliau menganalogikan bahwa hati manusia seperti cermin. Jika cermin itu bersih maka dia bisa menerima bayangan gambar secara bagus. Sebaliknya, jika cermin itu kotor maka dia tidak bisa menerima gambar secara bagus dan rinci. Cermin yang kotor seperti hijab yang menutupi gambar yang diterima cermin. Manusia hanya bisa membersihkan cermin itu melalui peningkatan perilaku baik dan mengurangi prilaku buruk. Contoh dari perilaku buruk/jahat, misalnya: "marah", "iri dan dengki", mengumbar nafsu seks, dan sejenisnya. Sedangkan contoh dari perilaku baik misalnya: ikhlas, sabar, dzikir, dan sejenisnya.

Masyarakat awam dan berpengetahuan rendah sering mengadakan superioritas dengan membanding-bandingkan di antara kedua jalan di atas. Padahal, sebenarnya, keduanya bukan dimaksudkan untuk saling berseteru. Masyarakat harus memposisikan keduanya secara baik dan bukan saling merendahkan satu sama lain. Karena hal itu tidak menambah kemaslahatan apapun tapi akan memperburuk suasana menjadi mencekam, prasangka jahat, dan muram.

Yang terakhir, Kedua jalan dan cara di atas bukanlah lawan atau antonim satu sama lainnya. Al-Ghazali menegaskan bahwa keduanya bisa eksis secara harmonis. Para 'ulama dan Shufi harus bersatu, tidak bercerai-berai, dan tidak saling berperang argumen satu sama lainnya. Karena hal tersebut bisa mengakibatkan kebingungan Peradaban Dunia Muslim seperti di masa lalu.

4 comments:

  1. Jahid KLW  

    15 Januari 2009 10.40

    Wah pas.... saya dapat tugas mata kulih untuk mecari titik temu tasawuf dan fiqih...eee..lihat posting ini.... yah lumayan dapat referensi..
    Makasih dan salam kenal Cahaya biru... PAN

  2. Choen  

    9 Juni 2009 14.50

    menarik,.. kedua jalan memang sebaiknya sinergi, sepertihalnya Ghazali yang merupakan ilmuwan sekaligus sufi. Tapi memang sulit, terutama ego ('aku') masih sering mencari muka.
    makasih wacananya..

  3. Celetukan Segar  

    6 Juli 2009 02.42

    Mohon ijin copas ke artikel : http://celetukansegar.blogspot.com/2009/06/etimologi-sufi_22.html

  4. ahmadna  

    8 Juni 2010 10.35

    sungguh hebat keterangan ini yang saya cari selama ini ternyata ketemu disini yang mudah2an ini menjadi pegangan bagi alfaqir khsusnya dan bagi kaum muslimin pada umumnya agar tidak saling menghina aliran2 yang masih berpegang dgn syariat Rosulloh saw tapi bersatu padulah kalian hai muslimin berpegang teguh dengan ajaran ALLOH dan ROSULNYA.salam persaudaraan dari alfaqir

Posting Komentar

Template Copyright 2009 and Designed By Cahaya Biru